SIGINJAI

DAERAH

WAWANCARA

POLITIK

SPORT

ACTUAL TV

You are here

Pemerintah Segera Evaluasi 15 Pabrik Sawit yang Tak Punya Kebun di Jambi


ACTUALINSIDE.COM.JAMBI - Bukan rahasia umum lagi jika banyak pabrik sawit yang berdiri di Jambi tak punya kebun sama sekali. Mereka nekad pinjam duit bank hingga puluhan miliar bahkan sampai ratusan miliar lantas mendirikan pabrik sawit.

Setelah itu mereka diburu angsuran kredit setiap bulan. Istilahnya ambil dulu pinjaman lantas dirikan pabrik sawit setelah itu urusan bayar, belakangan.

Hasil penelusuran actualinside.com jumlah pabrik sawit yang berdiri dengan kuota Tandan Buah Segar (TBS) timpang. Jumlah pabrik yang berdiri sudah lebih banyak daripada produksi TBS. Ini menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat.

Ambil contoh misalnya pabrik sawit PT Persada Alam Jaya (PAJ) yang berdiri sejak tiga tahun lalu di Simpang Rambutan, Tanjung Jabung Barat. Meski sudah 3 tahun, mereka kekurangan bahan baku. Dampaknya, buruh atau karyawannya yang menggantungkan nasib bekerja di sana terancam pula.

Begitu pula dengan pabrik sawit PT Prosympac Agro Lestari (PAL) di Sungai Gelam, Muaro Jambi. Mereka baru berdiri Juli 2017 lalu hanya dengan dukungan 6 Koperasi Unit Desa (KUD). Akibat tak punya kebun, saat ini PT PAL mengalami persoalan kekurangan bahan baku untuk produksi.

Ketua IPK Provinsi Jambi, Donny Pasaribu mengkhawatirkan situasi ini dapat menimbulkan persaingan tak sehat, dimana pabrik yang tak punya kebun akan bersaing dengan pabrik lain yang memiliki kebun untuk mendapatkan tandan buah segar (TBS). Kondisi inipun dapat memunculkan masalah pencurian TBS akibat persaingan harga antar pabrik.

Hal ini, kata Donny, mengharuskan pemerintah bertindak lebih tegas untuk menindaklanjuti masalah tersebut. Pemerintah harus menertibkan pabrik-pabrik tanpa kebun dan diwajibkan memiliki kebun sendiri.

“Kalaupun diberi izin, hendaknya pemerintah yang memberikan izin pembangunan PKS. Itupun mesti  mempertimbangkan lokasi yang layak, agar semua PKS memiliki minimal 20 persen bahan produksinya berasal dari kebun sendiri,” kata Donny kepada actualinside.com, Selasa (20/11/2017) pagi.

Menurut Donny, pemerintah tegas dan segera mengambil kebijakan dengan mengatur regulasi agar investasi bisa sehat dan pabrik tidak terus merugi.

Sementara itu Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Ir. Agusrijal mengatakan, awalnya pabrik tanpa kebun muncul dan diakomodasi pemerintah untuk mengatasi tak seimbangnya hasil panen kelapa sawit rakyat dengan ketersediaan pabrik pengolah Crude Palm Oil (CPO).

Banyak TBS sawit milik petani yang tak tertampung oleh pabrik yang kemudian membuat petani merugi.
“Pabrik tanpa kebun dimungkinkan berdiri dengan syarat memiliki kerja sama tertulis dan kontinu dengan petani sawit, pabrik pengolahan CPO harus memiliki kebun plasma sendiri. Artinya suplai TBS ke pabrik itu jelas!” kata Agusrijal kepada actualinside.com, Selasa (20/11/2017) lewat telepon genggamnya.

Agusrijal menambahkan UU Nomor 39 Tahun 2009 telah menegaskan bahwa industri perkebunan harus menyediakan kebun sendiri sebesar 20 persen.

Pada situasi seperti itu, terkadang izin pabrik pengolahan sawit oleh pemerintah daerah tak sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 26 Tahun 2007.

“Menyikapi keberadaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tanpa kebun saat ini sesuai Permentan tersebut setelah 3 tahun mematuhi dan menyesuaikan diri sesuai ketentuan dan aturan hukum yang berlaku yaitu UU Nomor 18 Tahun 2004 dan Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 26/Permentan/OT.140/2/2007.

Aturan itu, ujar Agus, bahwa pendirian PKS harus mempunyai kebun sendiri minimal 20 persen. Apabila kebun tersebut berada di dalam kabupaten maka wewenangnya adalah Bupati selaku kepala daerah. Sementara, apabila bahan bakunya berada di lintas kabupaten, maka itu kewenangan Gubernur untuk menindaknya.

Untuk Provinsi Jambi, menurut Agus, pihaknya akan mengevaluasi kondisi tersebut pada awal tahun 2018 mendatang. "Sekitar 15 PKS yang akan kita evaluasi. Dan kita berharap di kabupaten juga demikian," katanya mengakhirinya penjelasannya.

Sebaliknya, bagi petani maraknya pabrik sawit ini justru menguntungkan bagi mereka. Romzy, petani sawit asal Suban mengaku diuntungkan dengan banyaknya pabrik sawit, pasalnya selain memudahkan petani membawa hasil panennya, mereka juga dapat bebas memilih kemana mereka akan membawa TBSnya.

“Dengan banyaknya pabrik CPO dan adanya persaingan harga TBS, maka mudah bagi kami untuk memilih, tentunya kami akan mencari pabrik yang harga TBSnya tinggi, selain itu dengan dekatnya pabrik dari lokasi kebun kami, maka kami pun bisa menghindari tengkulak," kata Romzy dengan wajah sumringah. (ACI 03/ACI 01)


ActualInside

Kanal HKK

Total Pageviews

Media Partner